Petani Karet Menjerit Harga Karet dibawah harapan

Pohon Karet milik Warga Kampung Tri Mulya Jaya.(Dok: Kampung/Fhoto Erwin)

Tri Mulya Jaya – Wahyudi, pria yang masih lajang asal Kampung Tri Mulya Jaya , Kecamatan Banjar Agung , tak bisa menyembunyikan wajah sedihnya. Pasalnya, nyaris berlangsung setiap malam, hujan terus menghujam ke bumi. Ini derita bagi Wahyudi dan warga yang selama ini bekerja sebagai petani karet.

“Karena jika hujan terus tercurah itu pertanda kami sebagai anak petani tak bisa ke kantor menyadap karet. Kondisi penghujan ini telah berlangsung nyaris setiap malam. Selain tak bisa menakik, kondisi lainnya harga jual karet juga terbilang rendah, sekarang ini per kg nya hanya dihargai Rp 6.500.

Sementara harga sembako kian meroket, sangat tak berimbang dengan harga karet dan kebutuhan hidup sekarang ini,” keluh Wahyudi, Rabu (22/11).

Pohon Karet milik Warga Kampung Tri Mulya Jaya.(Dok: Kampung/Fhoto Erwin)

 

Kebun karet tua seluas lebih dari satu hektar itu adalah komoditi yang telah ditekuni Wahyudi sejak belasan tahun. Ia terus menaruh harapan dari tetesan karet yang ia sadap setiap harinya. Kini, ketika musim penghujan tiba, aktivitas itu terpaksa ia hentikan sementara. Dan ia harus memutar otak mencari pekerjaan lain, agar kebutuhan hidupnya bisa tertutupi.

“Karena musim penghujan ini, karet tak bisa di deres. Bila tetap dipaksakan, maka getah dan air akan bercampur, itu akan mempengaruhi kualitas dan mutu getah yang akan disulap menjadi ban kendaraan. Bisa-bisa tokeh karet besar meragukan hasil karet kita, bila musim penghujan ini tetap memaksakan untuk menderes,” bebernya.

Tak hanya Wahyudi yang menjerit dan berkeluh kesah, ketika musim hujan tiba, begitu derita yang dirasakan oleh masyarakat yang berprofesi penyadap karet khususnya di kampung Tri Mulya Jaya dan Umum nya di Kabupaten Tulang Bawang yang mayoritas masyarakatnya adalah petani karet.

“Wahyudi dan warga lainya berharap dan berdoa agar harga jual karet ini kembali naik dan normal. Setidaknya jika per kg nya karet masih dibanderol Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu, itu baru normal dan kebutuhan hidup tercukupi,” ungkap Wahyudi salah stu petani karet yang ada di kampung Tri Mulya Jaya.***